The Future of Technologhy

The future of technology is a topic of much debate. Some experts believe that we are on the verge of a technological revolution. Disclaimer: Everything I write is based on my personal opinion. For official information and complete documentation, please visit the official website.

Cosmjs Stargate

CosmJS Stargate adalah library JavaScript yang revolusioner untuk frontend developer yang ingin membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps) di ekosistem Cosmos dengan mudah dan efisien. Sebagai upgrade dari CosmJS versi sebelumnya, Stargate mendukung protokol Stargate yang memungkinkan interoperabilitas lintas-chain melalui IBC (Inter-Blockchain Communication), membuka peluang tak terbatas untuk membangun aplikasi multi-chain yang sophisticated. Instalasi sangat straightforward dengan npm install @cosmjs/stargate @cosmjs/proto-signing @cosmjs/amino untuk mendapatkan semua dependencies yang diperlukan. Library ini menyediakan abstraksi tingkat tinggi yang memungkinkan developer untuk berinteraksi dengan Cosmos SDK chains tanpa perlu memahami kompleksitas underlying protocol, cukup dengan JavaScript/TypeScript yang familiar. Fitur utama meliputi SigningStargateClient untuk mengirim transaksi, StargateClient untuk query read-only, dan DirectSecp256k1HdWallet untuk manajemen wallet yang aman. Developer dapat dengan mudah melakukan operasi seperti transfer token dengan await client.sendTokens(senderAddress, recipientAddress, coins, fee), staking dengan client.delegateTokens(), dan governance voting dengan client.vote(). Stargate juga mendukung custom message types dan protobuf encoding/decoding, memungkinkan interaksi dengan smart contracts CosmWasm dan module-module custom. Untuk frontend React developer, integrasi dengan state management seperti Redux atau Zustand sangat seamless, dan library ini kompatibel dengan wallet browser seperti Keplr dan Cosmostation melalui window.keplr API. Error handling yang robust dengan try-catch blocks dan TypeScript support yang excellent membuat development experience sangat smooth. Library ini juga menyediakan utilities untuk formatting addresses, parsing coins, dan validating transactions sebelum broadcast. Untuk production deployment, Stargate mendukung multiple RPC endpoints dengan automatic failover, connection pooling, dan caching untuk optimasi performa. Developer dapat menggunakan createProtobufRpcClient untuk custom gRPC queries dan mengakses advanced features seperti authz, feegrant, dan group modules. Documentation yang comprehensive dengan code examples, TypeScript definitions yang lengkap, dan active community support di Discord membuat learning curve menjadi sangat manageable. Stargate juga terintegrasi dengan testing frameworks seperti Jest dan Vitest, memungkinkan unit testing dan integration testing yang proper untuk dApps. Dengan bundle size yang optimized dan tree-shaking support, library ini tidak akan membuat aplikasi frontend menjadi bloated, sangat cocok untuk modern web development workflow dengan Webpack, Vite, atau Next.js.

Konflik & Drama: Cosmos Proposal 848 dan Lahirnya AtomOne

Proposal 848 telah memicu perpecahan paling dramatis dalam sejarah ekosistem Cosmos, menciptakan konflik ideologis yang mendalam antara dua kubu dengan visi yang bertentangan tentang masa depan jaringan. Kontroversi dimulai ketika proposal tersebut mengusulkan pemangkasan inflasi maksimum ATOM dari 20% menjadi 10%, sebuah perubahan yang tampaknya sederhana namun memiliki implikasi ekonomi dan filosofis yang sangat kompleks. Kubu pendukung, yang dipimpin oleh Cosmos Hub core team dan beberapa validator besar, berargumen bahwa inflasi tinggi menciptakan selling pressure yang berlebihan, mengurangi daya tarik ATOM sebagai store of value, dan menghambat adopsi institusional. Mereka meyakini bahwa pengurangan inflasi akan meningkatkan value accrual untuk long-term holders dan menciptakan tokenomics yang lebih sustainable. Di sisi lain, kubu penentang yang terdiri dari validator kecil, delegator retail, dan beberapa tokoh berpengaruh seperti Jae Kwon (co-founder Tendermint), menganggap perubahan ini sebagai pengkhianatan terhadap prinsip dasar Cosmos yang menekankan decentralization dan fair distribution. Mereka khawatir bahwa pengurangan reward akan mengkonsolidasikan kekuatan di tangan validator besar yang memiliki capital efficiency lebih tinggi, sementara validator kecil akan terpaksa keluar dari jaringan karena tidak mampu menutupi operational cost. Perdebatan semakin memanas ketika voting dimulai, dengan kampanye intensif dari kedua belah pihak melalui forum governance, Twitter spaces, dan Discord communities. Proposal 848 akhirnya lolos dengan margin tipis 51.2% vs 48.8%, namun kemenangan ini justru memperburuk situasi karena hampir setengah komunitas merasa tidak terwakili. Sebagai respons terhadap keputusan yang dianggap kontroversial ini, Jae Kwon dan All in Bits (AIB) mengumumkan rencana untuk melakukan hard fork dan menciptakan jaringan baru bernama AtomOne. AtomOne diposisikan sebagai "true Cosmos" yang mempertahankan nilai-nilai original dengan inflasi tetap 20%, governance yang lebih decentralized melalui quadratic voting, dan fokus pada minimal viable governance daripada feature creep. Fork ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga ideologis - AtomOne mengadopsi constitution-based governance yang membatasi jenis proposal yang dapat diajukan, mencegah perubahan fundamental seperti yang terjadi pada Proposal 848. Proses airdrop AtomOne kepada ATOM holders yang menolak proposal 848 menciptakan kompleksitas tambahan, karena snapshot diambil berdasarkan voting behavior dan staking history, bukan hanya kepemilikan token. Hal ini memicu perdebatan baru tentang fairness dan legitimacy, dengan beberapa pihak menuduh adanya manipulation dan vote buying. Dampak jangka panjang dari perpecahan ini sangat signifikan: ekosistem Cosmos kini terfragmentasi menjadi dua visi yang berbeda, dengan Cosmos Hub fokus pada institutional adoption dan economic efficiency, sementara AtomOne memprioritaskan decentralization dan community governance. Situasi ini juga mempengaruhi proyek-proyek lain dalam ekosistem Cosmos, yang harus memilih untuk mendukung salah satu chain atau mencoba mempertahankan neutrality. Ironisnya, konflik ini justru mendemonstrasikan kekuatan dan kelemahan governance on-chain: di satu sisi, sistem berhasil memproses proposal kontroversial secara demokratis, namun di sisi lain, hasil yang polarizing dapat memecah belah komunitas dan mengurangi network effect yang menjadi kekuatan utama blockchain. Ke depannya, kedua jaringan akan bersaing tidak hanya dalam hal teknologi dan adopsi, tetapi juga dalam membuktikan mana filosofi governance yang lebih sustainable dan efektif dalam jangka panjang.

Kenapa Harus $ETH ? Padahal COSMOS tidak kalah secara teknologi !

Dalam dunia blockchain yang semakin berkembang, Ethereum telah menjadi nama besar yang hampir selalu muncul ketika seseorang berbicara tentang smart contract dan aplikasi terdesentralisasi (dApp). Namun, bagi mereka yang telah menelusuri lebih dalam, nama seperti Cosmos tidak bisa diabaikan begitu saja. Cosmos hadir dengan teknologi mutakhir, arsitektur modular, dan interoperabilitas lintas-chain yang canggih. Lalu, pertanyaannya: kenapa banyak orang tetap memilih Ethereum? Mari kita bahas dari dua sisi: popularitas Ethereum dan keunggulan teknologi Cosmos. Mengapa Banyak Orang Memilih Ethereum? Ekosistem yang Sudah Matang Ethereum telah eksis sejak 2015 dan selama bertahun-tahun membangun komunitas, dokumentasi, dan ekosistem yang sangat kaya. Ribuan proyek dan token dibangun di atasnya, dari DeFi, NFT, hingga DAO. Likuiditas dan Infrastruktur Karena banyaknya developer dan pengguna, Ethereum memiliki bursa, dompet, tools, dan layanan yang jauh lebih banyak. Ini menjadikan ETH dan token ERC-20 sangat likuid dan mudah diperdagangkan. Efek Jaringan (Network Effect) Ethereum memiliki efek jaringan yang sangat kuat. Semakin banyak pengguna dan developer, semakin banyak insentif untuk proyek baru untuk bergabung ke jaringan tersebut. Standar dan Integrasi Banyak standar seperti ERC-20, ERC-721 (NFT), dan EIP lainnya telah menjadi default dalam industri. Platform lain pun sering kali harus kompatibel dengan Ethereum untuk bisa berintegrasi dengan tools dan layanan yang sudah ada. Tapi... Apakah Cosmos Kalah? TIDAK. Cosmos justru menawarkan pendekatan yang sangat berbeda dan bisa jadi lebih unggul dalam beberapa hal: Interoperabilitas Lintas-Chain (IBC) Cosmos memperkenalkan IBC (Inter-Blockchain Communication), protokol komunikasi antar-blockchain yang memungkinkan chain berbeda untuk saling bertukar data dan aset tanpa perantara. Arsitektur Modular Di Cosmos, kamu bisa membangun blockchain sendiri dari nol menggunakan Cosmos SDK. Ini memungkinkan developer untuk menyesuaikan fitur sesuai kebutuhan, tanpa dibatasi oleh Ethereum Virtual Machine (EVM). Biaya Transaksi Lebih Murah Transaksi di jaringan Cosmos (seperti Osmosis, Juno, atau Evmos) biasanya jauh lebih murah dibandingkan Ethereum, terutama saat Ethereum mengalami kemacetan. Konsensus yang Cepat dan Finalitas Instan Dengan menggunakan konsensus Tendermint, banyak chain Cosmos menawarkan waktu blok cepat dan finalitas instan—hal yang tidak dimiliki Ethereum tanpa Layer 2. Jadi, Kenapa Harus Ethereum? Sebenarnya, jawabannya bukan "Ethereum lebih baik dari Cosmos", tapi "Ethereum lebih dikenal". Ethereum unggul dalam pengakuan pasar, ekosistem, dan adopsi awal. Namun Cosmos unggul dalam arsitektur teknologi, desentralisasi nyata (app-chain), dan skalabilitas. Kesimpulan Jika Anda adalah pengguna biasa atau investor, Ethereum mungkin terasa lebih familiar dan mudah diakses. Tapi jika Anda seorang developer atau builder, Cosmos menawarkan kebebasan dan efisiensi yang luar biasa. Masa depan web3 bukan hanya milik Ethereum, tapi juga milik ekosistem interoperable seperti Cosmos. Mungkin hari ini Anda bertanya "Kenapa bukan ETH?", tapi beberapa tahun ke depan, pertanyaannya bisa saja berubah jadi: "Kenapa tidak Cosmos?"